Beranda > Managemen Keuangan > Kas Minimum

Kas Minimum

Setiap perusahaan tentu harus punya saldo kas dan bank, yang dapat dipergunakan kapan saja untuk kegiatan operasi perusahaan, baik untuk membeli bahan baku dan bahan penolong, untuk membayar perbaikan mesin, gaji karyawan, listrik, tilpon dan seterusnya. Jumlah yang harus dikeluarkan oleh perusahaan tiap-tiap bulan bisa sangat besar, tergantung pada besarnya perusahaan, besarnya penjualan dan besarnya biaya. Sayang orang sering lupa, bahwa disamping biaya-biaya yang harus dikeluarkan, juga ada arus dana masuk yang berasal dari penjualan, tagihan dan lain-lain. Pengeluaran tidak hanya dilakukan dari saldo kas dan bank saja, tetapi juga harus dilakukan penyesuaian terhadap perkiraan masuknya dana. Tiap-tiap perusahaan mempunyai ciri yang berbeda-beda dalam hal arus dana masuk dan arus dana keluar. Ada perusahaan yang arus dana masuknya jarang, tetapi arus dana keluarnya sering. Ada yang sebaliknya, yaitu arus dana masuknya sering, tetapi arus dana keluarnya jarang. Tentu ada juga yang masuk dan keluarnya sama seringnya dan yang tidak disuka oleh setiap perusahaan ialah kalau masuknya dan keluarnya jarang-jarang, karena itu berarti nafas perusahaan sudah tersendat. Perusahaan retail yang pemasukan dananya berlangsung terus bukan hanya tiap hari, tetapi bahkan tiap jam atau tiap menit,
bisa punya dana yang sangat besar, meskipun kita tahu pula, bahwa perusahaan juga pynya kewajiban untuk membayar supplier barang yang dijual. Bilamana pembayaran dilakukan secara tunai atau dengan kartu kredit yang pencairannya tidak terlalu lama, maka kecepatan pengumpulan dana bisa lebih besar dari pada kecepatan pembayaran kepada supplier, dengan akibat kas dan bank yang besar, diimbangi dengan hutang dagang yang sebanding.

Bilamana perusahaan dapat menempatkan kelebihan dananya dalam bentuk-bentuk yang lebih menghasilkan, misalnya deposito jangka pendek atau penempatan dalam reksadana yang mudah dicairkan, maka perusahaan justru bisa mendapat tambahan penghasilan dan sama sekali tidak perlu merisaukan berapa kas minimum yang dipertahankan. Perusahaan tidak perlu khawatir kekurangan dana, karena dana terus mengalir tanpa henti, setidaktidaknya kalau perusahaan jalan. Yang menjadi persoalan adalah kalau penjualan terganggu, toko sepi pengunjung, sehingga barang hanya menumpuk di toko, sedangkan supplier harus dibayar sesuai kesepakatan, belum lagi biaya gaji dan lain-lain yang juga harus dibayar pada waktunya. Tidak mungkin menunda pembayaran gaji, meskipun kadang-kadang terjadi juga pada perusahaan, yang tidak punya cukup dana, yang sudah tak bicara lagi soal kas minimum, karena memang sudah minim sekali dan tidak cukup untuk keperluan apa saja.
Soal kas minimum itu memang tergantung pada ciri dari perusahaan itu sendiri. Bilamana perusahaan importir hanya melakukan penjualan sekali-sekali, tetapi dalam jumlah besar, maka perusahaan memang harus mempertahankan kas minimum sebesar kebutuhan sebulan atau bahkan lebih, yang tentunya berasal dari keuntungan penjualan yang sekalisekali
itu. Setiap perusahaan tentunya berusaha untuk punya traksaksi penjualan sesering mungkin, tidak hanya sekali sebulan, tetapi bila mungkin sekali seminggu atau bahkan setiap hari, tetapi tidak mudah mengharapkan yang demikian, apalagi dengan margin laba yang cukup. Bilamana margin laba kecil atau bahkan rugi, mungkin perusahaan tak punya cukup dana untuk membeli persediaan, sehingga kas minimum juga harus disesuaikan lebih minim lagi. Secara umum setiap perusahaan harus melalui upaya-upaya pemangkasan biaya atau cost reduction, sepanjang itu tidak mengurangi penjualan dan bilamana cost reduction itu terlaksana, maka kas minimum yang diperlukan juga akan berkurang.
Banyak yang mempertahankan kas minimum dalam jumlah berlebih, hanya karena ketakutan akan kekurangan dana pada waktunya perlu melakukan pembayaran. Sebaliknya bila jadwal pembayaran untuk keperluan apa saja dapat dijadwalkan,
semestinya dapat direncanakan lebih dulu masuk dan keluarnya dana. Paling baik kalau perusahaan dapat mengatur keseimbangan antara piutang usaha dan persediaan di satu sisi dengan hutang usaha di lain sisi, bukan hanya jumlahnya, tetapi juga jadwal penerimaan dan pembayarannya. kas minimum itu bisa diatur sekecil-kecilnya, bilamana semuanya terjadwal, termasuk pembayaran tilpon, listrik dan gaji, yang tanggal-tanggal pembayarannya boleh dikatakan pasti. Juga tanggal pembayaran bunga dan cicilan hutang kepada bank. Bilamana mungkin jangan menentukan tanggal pembayaran yang bertumpuk, sehingga perusahaan harus menyediakan dana yang besar pada satu tanggal yang sama. Pengeluaran yang paling besar biasanya terjadi pada akhir bulan, khususnya untuk perusahaan yang punya pinjaman bank dan itu bersamaan dengan waktunya membayar gaji karyawan. Karena itu pembayaran cicilan mobil misalnya sebaiknya diatur pada hari lain yang agak jauh dari akhir bulan. Meskipun perusahaan menerima arus kas masuk setiap hari, tetap saja diperlukan beberapa hari untuk mengumpulkan sejumlah besar dana yang diperlukan pada akhir bulan, tetapi tetap saja perusahaan tidak perlu menetapkan kas minimum dalam jumlah besar untuk semua hari dalam sebulan. Dengan menjadwalkan pemasukan dan pengeluaran dana, perusahaan selalu dapat menyesuaikan arus kasnya. Sangat ironis kalau sebuah hotel yang pembayaran paling besar pada akhir bulannya hanya Rp 150 juta misalnya, merasa perlu mempertahankan kas minimum sebesar Rp 500 juta, padahal setiap hari selalu ada pemasukan. Hampir semua perusahaan punya pengeluaran harian, misalnya untuk biaya transpor, tetapi dengan mudah kita bisa menghitung berapa besar kebutuhannya dalam sehari, dibandingkan dengan berapa banyak uang masuk dalam sehari.
Bilamana pemasukan tidak rata, maka perusahaan memang perlu mempertahankan sejumlah kas minimum, untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran rutin selama beberapa hari. Tidak perlu mempertahankan kas minimum untuk pembelian bahan baku dan bahan penolong, ini selalu bisa diatur dan dijadwalkan sesuai dengan jadwal pemasukan dana. Meskipun telah diatur dengan baik, sering perusahaan yang menurut laporan laba rugi masih bisa menghasilkan cukup laba, ternyata tidak punya cukup uang tunai di kas atau banknya, karena mereka lupa, bahwa laba bukanlah jaminan akan adanya dana seperti juga rugi bukan berarti tidak ada dana, sepanjang kerugian itu mash lebih kecil dari pada penyusutan atau depresiasi. Yang bisa menyerap banyak dana adalah piutang usaha dan persediaan. Bilamana tidak diatur dengan baik, berapa saja kas yang tersedia, dengan cepat bisa dihabiskan oleh piutang yang susah ditagih pada waktunya atau persediaan yang menumpuk, tetapi tidak perlu. Uang adalah uang, hemat-hematlah dan pandai-pandailah menggunakan uang perusahaan anda untuk menghasilkan laba lebih banyak lagi, bukan hanya dari operasi. Karena itu jangan biarkan uang perusahaan anda tidur nyenyak dengan kas minimum yang terlalu besar dan tidak perlu.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: